Senin, 10 Desember 2012

ketika hujan menjadi sebuah alasan

sekali aku pernah. iya pernah merasa seperti ini. aku perantau. tentunya pasti tak mudah menemukanmu diantara ratusan mahasiswa fakultas ini. kau. iya kau. bukan maba. lirikanmu terhadap maba itu .. berciri khas. apa yang membuat itu menjadi khas? tatapan bahwa kau adalah orang yg paling dipuja. kau terbang diantara tatapan tatapan pemujamu. bukan. aku tak memujamu sama seperti yang mereka lakukan. aku diam. memperhatikanmu . poker face yang biasa orang bilang. berharap kau melihatku dengan tatapan yang berbeda dari tatapanmu ke maba lain. "iiih. tadi aku ketemu kakaknya lhooooo. sumpah sumpah ganteng bangeeet". iya. sering aku mendengar ocehan seperti itu dari salah satu temen satu kosku. panas. panas mendengarnya. memang kuakui, pasti banyak sekali maba yang terpikat olehmu. tapi satu hal yang perlu kau tau, aku tak menyukaimu dengan cara memujamu. aku menyukaimu dengan caraku. mendoakanmu dari jauh, agar kau melihatku. hujan hari ini berhasil menyampaikan. karena hujan, hari ini aku puas menatapmu yang sedang berteduh. terima kasih, hujan. karena kau telah menjadi sebuah alasan.

inspired by Esa Wulaningtyas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar